Kamis, 14 Agustus 2014

Aku kira itu SMS

Aku kira itu SMS darimu

 
 
 
 
 
 
Rate This

Waiting teddybee
Pagi ini, saat tidak biasanya sebuah sms masuk mengusik heningku, saat aku lagi asyik membaca berita di koran pagi, dan aku sedikit kaget setelah mengetahui ternyata kamu yang menyapa aku di pagi ini. Bagiku, kamu telah menghilang jauh, menghilang entah kemana. Bila kita sebuah tim, kamu telah aku keluarkan dari sebuah tim itu. Namun, aku sangat rindu padamu, jujur aku merasa sangat kehilanganmu, hanya karena egoku, tak mungkin aku mengakui itu padamu. Saking merasa sangat kehilanganmu, ini ku anggap dan terus berusaha mengganggap kamu tidak pernah hadir dalam hidupku.
Kamu mungkin tidak tahu bahwa semua nomor teleponmu telah aku hapus, itu juga bagian dari sebuah cara bagiku untuk menggangap keberadaanmu saat dulu tidak pernah exist, menganggap keberadaanmu hanyalah ilusi semata, sebuah tokoh fiksi dalam sebuah cerpen ataupun novel bersambung. Tentu kamu akan marah jika kamu memang mengetahui sebegitu dalamkah aku untuk menghilangkan jejakmu dalam hidupku. Hari ini pun, saat sms kamu masuk, betapa aku berharap aku telah berhasil melupakanmu, nomor nomormu, berharap aku bisa berucap”ini siapa ya? nomormu tidak ada diphonebook aku.”
Tentu kamu akan sangat marah dan tidak mungkin lagi kamu akan membalas sms itu, dan pasti menganggap diriku sangat sombong hingga hanya sekejap telah melupakanmu. Dan bagiku seandainya itu terjadi, kamu membenciku dan aku tidak ingat lagi siapa dirimu. Beginilah kita berakhir dengan sebuah proses alamiah, mungkin tidak benar kata alamiah bagimu, namun bagiku alamiah terasa pas karena memang secara impulsif aku telah melupakanmu.
Kini,bila malam datang sepiku kian terasa. Kamu yang biasa selalu menyapa dikala malam, bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan, bertanya tentang info-info buku terbaru, meminta pendapatku tentang tulisan-tulisanmu, sampai kamu suka menuangkan curahan hatimu soal keluargamu, tentang mantanmu, tentang temanmu. Masih ingatkah kamu waktu kita membahas tentang sebuah novel, semua adegan yang aku suka juga merupakan adegan yang kamu suka. Kecocokan kita teramat sangat soal novel. Adegan dimana si cewek membahas soal cinta dengan temannya, teman si cewek mengatakan bahwa dia sangat menyukai cowok yang berpenampilan keren, tubuh yang kekar, yang selalu bercelana jeans, dan cewek itu membalasnya”itu bukan cinta, kalau cinta, kamu tidak akan mempedulikan apa yang dipakai oleh kekasihmu, bagaimana posturnya, apa yang terjadi dengannya, kamu akan selalu mencintainya”.
Masih ingatkah kamu dengan adegan itu? Satu adegan lagi yang selalu kita bahas, saat seorang pria yang sangat menyukai si wanita, namun wanita itu sama sekali tidak mencintainya, saat pria itu mengejar wanita itu di pantai, wanita itu menyuruh pria itu menjawab pertanyaanya. Masih ingatkah kamu akan pertanyaan si wanita itu, aku yakin kamu masih ingat. Wanita itu menyuruh pria itu menjawab, berikan alasan kenapa pria itu mencintai dia, tapi pria itu sama sekali tidak bisa menjawab kenapa dia mencintai wanita itu. Di situ kita sepakat bahwa kadang cinta itu tidak perlu ada alasan, kita mencintainya karena memang kita mencintainya, kita tidak tahu juga kenapa bisa mencintainya. Kita ngobrol tentang musim-musim yang disukai. Kamu mengatakan padaku, kamu menyukai musim gugur, daun daun yang menguning, daun-daun yang berterbangan, ranting ranting kering, namun kamu juga bilang padaku kamu menyukai salju, itulah topik topik yang kita bahas dikala semuanya mungkin telah tertidur lelap.
Kini,malam-malam datang tanpa ada menyertai dirimu lagi. Aku merasa kamu telah terlepas dengan malam yang datang menyambutku, seperti sebuah kereta yang terus membawaku berlaju, malam malam dulu, kita berdua dalam kereta itu, namun malam malam kini kamu telah berhenti di stasiun pemberhentian dan kamu keluar meninggalkanku seorang diri kini dalam kereta yang terus melaju. Saat malam-malam bersamamu, saat emosi aku sedang kacau, aku merasa sangat lelah, semakin kamu menyapaku, semakin aku merasa lelah dan mungkin aku merasa hati yang perih, mungkin juga karena egoku.
Kamu tahu kenapa aku lelah, bersamamu aku hanya bisa mendengar suaramu dengan terpisah oleh jarak yang jauh. Aku tak sanggup meraihmu, menatapmu, melihat ekpresimu, melihat senyummu, kamu juga yang menolak untuk aku gapai. Kamu tahu, kadang betapa tersiksanya perasaan ini, bagaikan disaat aku kehausan, aku hanya memandang segelas orange juice dari balik kaca yang tak mampu aku mengambilnya. Tapi, cinta tidak untuk memiliki dan dimiliki, karena cinta hanya hidup untuk cinta. Begitu yang pernah saya baca dari sebuah buku sastra.
Kamu tahu? malam malam bersamamu aku telah tahu, suatu saat akan berakhir dan telah lama aku mempersiapkan diri ini untuk menghadapinya, menghadapi tanpa kehadiranmu. Dan akhirnya sebuah hari penantian kamu sampaikan kepadaku. Saat aku jalan-jalan di pinggir pantai pasir putih danau toba, teleponmu masuk, kita mengobrol santai, kamu mengatakan betapa rindunya kamu akan suasana pantai pasir putih danau toba, namun di akhir percakapan dirimu memberitahuku bahwa kamu berdua telah memilih dan menetapkan sebuah tanggal hari pernikahan. Kata-katamu itu menyumbat mulutku,walau tidak kamu sadari.
Aku terpaku, aku terpana, mataku kosong menatap gelombang ombak di depan, terasa hampa mendengar suara desiran angin yang berhembus kencang. Bagiku, saat itu seakan semuanya berhenti, waktupun berhenti dan mendapati diriku berada di ruang yang hampa. Mungkin tidak kamu sadar, itulah kata kata yang paling takut bagiku untuk didengar. Hari hari terus berjalan, kamu tahu, malam-malam tidak semesra dulu, kala pertama kali kita berkenalan, kala kita berdiskusi tentang novel-novel dan apakah kamu tahu juga, saat nanti aku pulang kampung ke samosir. Jujur ku katakan, tak sanggup diri ini menemuimu, sekadar berpapasan denganmu saja aku tidak sanggup.
Akhirnya,hari penantian itu tiba dengan datangnya sebuah kartu undangan darimu. Kamu tahu, aku memikirkan beberapa skenario untuk itu, skenario untuk tidak hadir dalam hari sakralmu, skenario hanya hadir untuk menyapa dan pergi setelah itu, sampai skenario pergi dengan bergandengan seorang cewek. Alangkah bodohnya diriku ini, ha ha. Semua skenario itu hanya mendatangkan luka di hati. Akhirnya aku memilih datang sendiri, kamu terasa senang melihat kedatanganku, bagiku sendiri kedatangan ini sekaligus perpisahan itu sendiri. Tidak lupa kamu memintaku foto bersama, sungguh ingin memenuhi permintaanmu, namun tahukah kamu ku sembunyikan luka ini di hati.
Dari jauh ku memandangmu, bagiku itu cukup sudah, bagian akhir dari sebuah kisah, dan aku pun melangkah keluar. Apakah kamu ada mencariku, menyisiri semua ruangan untuk melihatku, memanggilku untuk foto bersamamu..ah, bagiku toh semuanya itu tidak penting, yang terpenting adalah kisah ini berakhir. Kini, malam ini, aku bercerita tentang kisah kita. Bagiku, peranmu telah habis. Hanya penggantimu belum aku temukan, mungkin tiada yang sepadan menggantikanmu. Aku terkejut, handphone aku berdering, sebuah sms masuk, mengingatkanku padamu.Ternyata..ha ha.”Pelanggan yang terhormat, nikmatilah tarif nelpon murah dari Pukul 00.00 WIB pagi sampai pukul 17.00 WIB sore, bla bla bla….”

 darimu

 
 
 
 
 
 
Rate This

Waiting teddybee
Pagi ini, saat tidak biasanya sebuah sms masuk mengusik heningku, saat aku lagi asyik membaca berita di koran pagi, dan aku sedikit kaget setelah mengetahui ternyata kamu yang menyapa aku di pagi ini. Bagiku, kamu telah menghilang jauh, menghilang entah kemana. Bila kita sebuah tim, kamu telah aku keluarkan dari sebuah tim itu. Namun, aku sangat rindu padamu, jujur aku merasa sangat kehilanganmu, hanya karena egoku, tak mungkin aku mengakui itu padamu. Saking merasa sangat kehilanganmu, ini ku anggap dan terus berusaha mengganggap kamu tidak pernah hadir dalam hidupku.
Kamu mungkin tidak tahu bahwa semua nomor teleponmu telah aku hapus, itu juga bagian dari sebuah cara bagiku untuk menggangap keberadaanmu saat dulu tidak pernah exist, menganggap keberadaanmu hanyalah ilusi semata, sebuah tokoh fiksi dalam sebuah cerpen ataupun novel bersambung. Tentu kamu akan marah jika kamu memang mengetahui sebegitu dalamkah aku untuk menghilangkan jejakmu dalam hidupku. Hari ini pun, saat sms kamu masuk, betapa aku berharap aku telah berhasil melupakanmu, nomor nomormu, berharap aku bisa berucap”ini siapa ya? nomormu tidak ada diphonebook aku.”
Tentu kamu akan sangat marah dan tidak mungkin lagi kamu akan membalas sms itu, dan pasti menganggap diriku sangat sombong hingga hanya sekejap telah melupakanmu. Dan bagiku seandainya itu terjadi, kamu membenciku dan aku tidak ingat lagi siapa dirimu. Beginilah kita berakhir dengan sebuah proses alamiah, mungkin tidak benar kata alamiah bagimu, namun bagiku alamiah terasa pas karena memang secara impulsif aku telah melupakanmu.
Kini,bila malam datang sepiku kian terasa. Kamu yang biasa selalu menyapa dikala malam, bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan, bertanya tentang info-info buku terbaru, meminta pendapatku tentang tulisan-tulisanmu, sampai kamu suka menuangkan curahan hatimu soal keluargamu, tentang mantanmu, tentang temanmu. Masih ingatkah kamu waktu kita membahas tentang sebuah novel, semua adegan yang aku suka juga merupakan adegan yang kamu suka. Kecocokan kita teramat sangat soal novel. Adegan dimana si cewek membahas soal cinta dengan temannya, teman si cewek mengatakan bahwa dia sangat menyukai cowok yang berpenampilan keren, tubuh yang kekar, yang selalu bercelana jeans, dan cewek itu membalasnya”itu bukan cinta, kalau cinta, kamu tidak akan mempedulikan apa yang dipakai oleh kekasihmu, bagaimana posturnya, apa yang terjadi dengannya, kamu akan selalu mencintainya”.
Masih ingatkah kamu dengan adegan itu? Satu adegan lagi yang selalu kita bahas, saat seorang pria yang sangat menyukai si wanita, namun wanita itu sama sekali tidak mencintainya, saat pria itu mengejar wanita itu di pantai, wanita itu menyuruh pria itu menjawab pertanyaanya. Masih ingatkah kamu akan pertanyaan si wanita itu, aku yakin kamu masih ingat. Wanita itu menyuruh pria itu menjawab, berikan alasan kenapa pria itu mencintai dia, tapi pria itu sama sekali tidak bisa menjawab kenapa dia mencintai wanita itu. Di situ kita sepakat bahwa kadang cinta itu tidak perlu ada alasan, kita mencintainya karena memang kita mencintainya, kita tidak tahu juga kenapa bisa mencintainya. Kita ngobrol tentang musim-musim yang disukai. Kamu mengatakan padaku, kamu menyukai musim gugur, daun daun yang menguning, daun-daun yang berterbangan, ranting ranting kering, namun kamu juga bilang padaku kamu menyukai salju, itulah topik topik yang kita bahas dikala semuanya mungkin telah tertidur lelap.
Kini,malam-malam datang tanpa ada menyertai dirimu lagi. Aku merasa kamu telah terlepas dengan malam yang datang menyambutku, seperti sebuah kereta yang terus membawaku berlaju, malam malam dulu, kita berdua dalam kereta itu, namun malam malam kini kamu telah berhenti di stasiun pemberhentian dan kamu keluar meninggalkanku seorang diri kini dalam kereta yang terus melaju. Saat malam-malam bersamamu, saat emosi aku sedang kacau, aku merasa sangat lelah, semakin kamu menyapaku, semakin aku merasa lelah dan mungkin aku merasa hati yang perih, mungkin juga karena egoku.
Kamu tahu kenapa aku lelah, bersamamu aku hanya bisa mendengar suaramu dengan terpisah oleh jarak yang jauh. Aku tak sanggup meraihmu, menatapmu, melihat ekpresimu, melihat senyummu, kamu juga yang menolak untuk aku gapai. Kamu tahu, kadang betapa tersiksanya perasaan ini, bagaikan disaat aku kehausan, aku hanya memandang segelas orange juice dari balik kaca yang tak mampu aku mengambilnya. Tapi, cinta tidak untuk memiliki dan dimiliki, karena cinta hanya hidup untuk cinta. Begitu yang pernah saya baca dari sebuah buku sastra.
Kamu tahu? malam malam bersamamu aku telah tahu, suatu saat akan berakhir dan telah lama aku mempersiapkan diri ini untuk menghadapinya, menghadapi tanpa kehadiranmu. Dan akhirnya sebuah hari penantian kamu sampaikan kepadaku. Saat aku jalan-jalan di pinggir pantai pasir putih danau toba, teleponmu masuk, kita mengobrol santai, kamu mengatakan betapa rindunya kamu akan suasana pantai pasir putih danau toba, namun di akhir percakapan dirimu memberitahuku bahwa kamu berdua telah memilih dan menetapkan sebuah tanggal hari pernikahan. Kata-katamu itu menyumbat mulutku,walau tidak kamu sadari.
Aku terpaku, aku terpana, mataku kosong menatap gelombang ombak di depan, terasa hampa mendengar suara desiran angin yang berhembus kencang. Bagiku, saat itu seakan semuanya berhenti, waktupun berhenti dan mendapati diriku berada di ruang yang hampa. Mungkin tidak kamu sadar, itulah kata kata yang paling takut bagiku untuk didengar. Hari hari terus berjalan, kamu tahu, malam-malam tidak semesra dulu, kala pertama kali kita berkenalan, kala kita berdiskusi tentang novel-novel dan apakah kamu tahu juga, saat nanti aku pulang kampung ke samosir. Jujur ku katakan, tak sanggup diri ini menemuimu, sekadar berpapasan denganmu saja aku tidak sanggup.
Akhirnya,hari penantian itu tiba dengan datangnya sebuah kartu undangan darimu. Kamu tahu, aku memikirkan beberapa skenario untuk itu, skenario untuk tidak hadir dalam hari sakralmu, skenario hanya hadir untuk menyapa dan pergi setelah itu, sampai skenario pergi dengan bergandengan seorang cewek. Alangkah bodohnya diriku ini, ha ha. Semua skenario itu hanya mendatangkan luka di hati. Akhirnya aku memilih datang sendiri, kamu terasa senang melihat kedatanganku, bagiku sendiri kedatangan ini sekaligus perpisahan itu sendiri. Tidak lupa kamu memintaku foto bersama, sungguh ingin memenuhi permintaanmu, namun tahukah kamu ku sembunyikan luka ini di hati.
Dari jauh ku memandangmu, bagiku itu cukup sudah, bagian akhir dari sebuah kisah, dan aku pun melangkah keluar. Apakah kamu ada mencariku, menyisiri semua ruangan untuk melihatku, memanggilku untuk foto bersamamu..ah, bagiku toh semuanya itu tidak penting, yang terpenting adalah kisah ini berakhir. Kini, malam ini, aku bercerita tentang kisah kita. Bagiku, peranmu telah habis. Hanya penggantimu belum aku temukan, mungkin tiada yang sepadan menggantikanmu. Aku terkejut, handphone aku berdering, sebuah sms masuk, mengingatkanku padamu.Ternyata..ha ha.”Pelanggan yang terhormat, nikmatilah tarif nelpon murah dari Pukul 00.00 WIB pagi sampai pukul 17.00 WIB sore, bla bla bla….”

Sebuah Pengakuan

Sebuah Pengakuan

 
 
 
 
 
 
Rate This

20131222122012_698
(Oleh: Suryono Brandoi Siringo-ringo)Selamat malam bintangku, selamat malam duniaku. Malam ini sangat sepi tanpamu lagi, malam ini aku kembali berjalan dalam kegelapan dan berdiri tanpa terangmu. Aku mengisi cerita dalam lembaran putih dan menghapusnya sehingga semua terlihat kosong.
Tapi tetap saja ada bekas yang tidak akan mengembalikan kertas itu seperti semula.
Dan bekas itu akan selalu menemaniku kemanapun. Erna baru saja menutup buku diary kecilnya, sebulan sudah setelah dia selalu meributkan hal yang sama sepanjang hari dengan Brian.
Kini dia menatap kosong tentang kehidupan yang selanjutnya akan di lalui. Dia hanya mempercayai bahwa waktu akan selalu bersamanya dengan sejuta rahasia.
“Kau tahu Brian?” Tanya Erna ketika mereka duduk di dekat air pancur di taman kota.
“Apa?” tanya Brian yang sedang asik memperhatikan orang-orang di sekeliling taman.
“Aku tidak akan pernah melupakan semua yang pernah terjadi antara kita berdua” kata Erna menjelaskan.
“Hahhhahaha… Kau bicara apa Erna, kita tidak akan berpisah. Ingat itu!” Balas Brian tertawa sambil mengacak-ngacak rambut Erna.
“Aku serius Brian” kata Erna merengek.
“Sudahlah, ayo kita pulang.” Jawab Brian berjalan dengan senyum tipis di bibirnya.
Brian, akan selalu seperti itu. Dia tidak akan berubah, dia dengan gayanya yang selalu santai dan tidak banyak berpikir tentang apapun dan mungkin juga Erna. Di dalam benaknya, Erna hanya teman asyik untuk ngobrol, bercanda dan berbagi hal yang selayaknya bisa dibagi. Erna, juga akan selalu seperti itu.
Dia tidak akan mampu membedakan kapan itu bercanda kapan itu serius. Baginya, setiap bercerita dengan Erna adalah hal-hal yang paling menggembirakan, hal yang tidak akan bisa di gantikan dengan apapun. Dan dia juga akan selalu lupa untuk mengendalikan rasa yang terkadang muncul secara tiba-tiba.
“Jantungku lemah, kau tahu aku tidak mampu mendengar suara lembut itu, aku kehabisan napas, Van” cerita Erna ke Vani, sahabat dekatnya. Ketika mereka bertemu di sudut ruangan di kampus.
Vani hanya tertawa melihat tingkah laku Erna. “Kau tahu? Semua orang akan merasakan hal sama sepertimu ketika mereka jatuh cinta” kata Vani menanggapi.
“Menurutmu aku sedang jatuh cinta begitu?” Tanya Erna bodoh.
“Ya…”
Erna tersenyum dan mulai berpikir dan Dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. “aku harus mengaku, iya aku harus mengaku” kata Erna gembira.
“Apa?” “Aku akan mengaku pada Brian bahwa aku suka dia, Van. iya aku akan melakukannya.” Ucap Erna kegirangan.
“Hei!!! Kau sadar sesuatu? Perempuan hanya perlu menunggu, kau tidak ada hak untuk bertindak terlebih dulu” larang Vani geleng kepala.
“Tapi, ada saatnya mengaku itu lebih baik, itu tidak akan merendahkanmu jika kau melakukannya dengan hati” kata Erna tersenyum menang.
“Terserah mu saja, jika kau merasa nyaman dengan itu” kata Vani akhirnya.
Erna berlari-lari kecil ketika pagi itu dia menerima telpon dari Brian. Dia mencari tempat aman supaya tidak ada temen-temennya yang usil menganggunya.
Luar biasa kegembiraan Erna suara yang sudah beberapa hari ini hilang karena Erna sendiri berusaha untuk diam beberapa hari karena dia ingin mempersiapkan segala sesuatunya. Dengan pelan-pelan Erna menjawab Brian yang pagi itu sedang menikmati sarapan paginya. “Hei!!! Apa kabar?” Tanya Erna tidak mampu menahan perasaannya.
“Hehehhe, kau selalu seperti itu, aku baik-baik saja.”Jawab Brian tertawa.
“Brian, aku ingin mengaku sesuatu padamu” kata Erna sangat hati-hati.
“Apa itu?” Tanya Brian.
“Aku, aku…”
“Apa?” Brian menggoda Erna.
“Sudahlah, aku tidak bisa, ternyata ini lebih sulit dari Matematika” ucap Erna putus asa.
“Hahhahaha… Kau ini seperti berbicara dengan siapa saja, katakan apa yang ingin kau katakan” ucap Brian.
Erna tersenyum kecil. Dan menarik napas panjang. Ini pengalaman pertama buatnya.
Napasnya naik turun dan tangannya mulai gemetaran, ponsel di tangannya mulai basah karena keringat dingin yang mengalir di sela-sela jarinya.
“Hallo.. Erna apakah mau masih di sana” tanya Brian memanggil Erna.
“Eh! Iya. Brian aku di sini.” Jawab Erna.
“Lantas, apa yang ingin kau katakan?” Tanya Brian lagi.
Erna menarik napas sekali lagi dengan sekuat tenaga dan suara yang pelan dan gemetaran.
Dia mulai menceritakan semuanya pada Brian. Tentang tawa yang tidak bisa di lupakan.
Tentang bintang yang menjadi cerita, tentang cahaya yang menjadi teman, tentang rasa yang tak bisa di simpannya lagi lebih lama di hatinya. Hingga akhirnya Erna membuat pengakuan bahwa dia sangat menyayangi Brian.
“Iya, Brian aku menyayangimu” kata Erna terbata-bata. “Apa? Aku tidak mendengarnya.”Kata Brian menggoda.
“Brian plisss…”
“Aku ingin mendengarnya sekali lagi” “Aku suka Brian” jawab Erna dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
“Hahhahhahah… Baiklah, aku rasa kau sudah di tunggu oleh teman-temanmu, sebaiknya kau kembali.” Kata Brian yang memang mungkin mendengar panggilan teman-teman Erna dari kejauhan.
“Tidak, aku ingin mendengar kau mengatakan sesuatu” kata Erna membantah.
“Erna, dengar aku juga suka padamu, tapi sebaiknya kau menemui teman-temanmu, jangan biarkan mereka menunggu.” Jawab Brian.
Erna tersenyum kecil dan menutup telpon itu, jawabannya iya tapi Erna tidak puas dengan itu. Rasanya ada sesuatu yang seharusnya lebih dari itu. Rasanya ada sesuatu yang masih di sembunyikan oleh Brian. Tapi Erna tetap tidak menemukan jawaban apapun setelah itu. Dia, berdiri dan menatap kosong akan apa yang sedang di alaminya. Bahwa pengakuannya terlihat sia-sia. Bahwa bintangnya pun hilang setelah itu dan tidak ada apapun setelah itu. Dia kehilangan Brian dengan sebuah pengakuan.

SDYPPK IDAKEBO



SDYPPK IDAKEBO 

BY JHON DUMUPA 

Hati ini begitu resah
Namun apa daya . . . .
Aku tak mampu untuk mengobati
Kerinduanku kepada orang yg aku sayangi
Biarlah kerinduan itu kupendam
Di dalam hatiku yg paling dalam
Untuk mencapai impian hidupku
Demi masa depanku
Ayah dan Ibuku . . . . . .
Kutingalkan serta sahabatku
Demi memperjuangkan hidup
Yang begitu getir dan penuh cobaan
Dengan doa dan restumu itulah
Yang menjadi bekal hidupku
Dan menjadi kekuatan,keberanian
Dan kesabaran . . . . . . .
Itulah menjadi tongkat kekuatan
Kemanapun aku pergi .

Surat Kerinduanku Kepada-mu Tuhan



Posted on  juni 28, 2014 
by jhon dumupa


Gambar
Surat Kerinduanku Kepada-mu Tuhan (Nasrycipta.blogspot.com)
Minggu,28/8/2014 – Berhari-hari,Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan aku jauh dari rumahmu bapak.1 hari dalam seminggu yang engkau berikan kepadaku untuk datang ke rumahmu,memuji dan memuliakanmu tak pernah aku laksanakan lagi bapakku. Namun hari ini aku datang ke rumah mu bapaku dengan hati penuh kerinduan akan kasihmu bapa yang di surga.betapa damai hatiku berada di rumah mu bapa,tak ingin lagi aku keluar dari pintu rumahmu.
Berlutut,menangis di rumahmu bapakku. Aku memohon Ampun atas segala dosa-dosa yang aku perbuat bapaku,baik sengaja maupun tidak sengaja.Karena aku tahu bapa, kasih mu tiada bertepi kepada hambamu ini. Memanggil Engkau Bapa adalah anugerahku yang terbesar.
Sungguh besar kasih dan kuasa-Mu, Bapa, didalam hidupku. Sepanjang hidupku aku ingin terus mengenal diri-Mu, memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.
Terpujilah Engkau, Bapa!
Terpujilah Engkau, Yesus!
Terpujilah Engkau, Roh Kudus!
Amin.
Bapa, Hari ini aku bersukacita sekali dapat lebih mengenal dirimu, walaupun aku tahu aku tidak dapat dan tidak mampu mengenal-Mu sepenuhnya, karena keterbatasanku sebagai manusia, yang adalah ciptaan-Mu.
Bapaku yang di Sorga, hari ini aku memutuskan untuk menulis sebuah surat pada-Mu. Aku tahu sesungguhnya jarakku dengan Engkau hanya sebatas doa. Melalui doa aku bisa menyampaikan hal apapun kepada-Mu. Tapi kali ini aku rindu untuk melakukannya melalui tulisan, dan aku percaya tulisanku ini tetap sampai pada alamat-Mu.
Kau tahu, Bapa, bagaimana perasaanku saat menulis surat ini untuk-Mu? Aku merasakan kesukacitaan didalamnya. Bapa,Engkaumengangkatku sebagai anak-Mu, yang Kau pandang berharga dan mulia. Kau bahkan jadikanku biji mata-Mu. Betapa bahagianya aku, Bapa.
Bapa yang baik, Engkau Bapa yang tidak pernah meninggalkanku, yang setia menjaga dan memeliharaku, melindungiku dan memperhatikanku.  Bapa, oleh karena kasih-Mu, aku dapat belajar lebih menghargai orang lain. Aku menjadi lebih tahu membangun hubungan dengan orang-orang disekelilingku, mulai dari keluargaku, teman-temanku, dan masyarakat. Hal indah ini tidak mungkin dapat kualami jika aku belum mengenal kasih-Mu, Bapa
Sukacita yang meluap, Bapa. Oh..Aku ingin sekali kembali merasakannya. Memang sekarang aku tetap memiliki kedamaian dan sukacita itu ditengah-tengah persoalan dan masalah. Namun sukacita sewaktu aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat melebihi sukacitaku yang sekarang. Sungguh tiada terkatakan dasyatnya.
Apa yang ditulis dalam firman-Mu Matius 13: 45-46 “ Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”. Dan Yesus melebihi mutiara itu. Sungguh aku tidak dapat membayangkan bagaimana hidup di Sorga nanti bersama-sama dengan Yesus Kristus. Itu pasti melebihi dengan apa yang pernah kurasakan.
Bapa, aku sedang merenungkan betapa berbedanya kerajaan dunia dengan Kerajaan Sorga. Di dunia ini banyak masalah dan persoalan hidup, pencobaan-pencobaan terus silih berganti. Sampai terkadang rasanya ingin menyerah saja, Bapa. Betapa sengsaranya hidup didunia ini.
Kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana,bahkan alam pun ikut bereaksi. Ketakutan, kekhawatiran, kebimbangan, ketidakpastian melanda setiap insan duniawi. Ada tangisan, jeritan, keluhan setiap hari bahkan setiap waktu. Entah kapan semua ini berakhir. Tapi ada satu hal bagiku, pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya diatas awan-awan. Itulah merupakan penghiburan buat kami. Segeralah datang , Tuhan Yesus.
Tidak lupa juga Bapa, aku mau mengucap syukur kepada Roh Kudus atas penghiburan dan kekuatan yang telah Ia berikan kepada diriku selama hidup didunia ini dengan segala pencobaan-pencobaan yang ada. Andai bukan karena Roh Kudus, entah  apa yang terjadi pada diriku ini. Aku pasti mengalami keputusasaan atas pengharapan dan jalan buntu dalam persoalan. Oleh karena Roh Kudus lah aku diberi kekuatan, pengharapan sekaligus penghiburan. Terima kasih Roh Kudus. Biarlah Engkau terus mau berdiam dihatiku, karena diriku adalah bait Allah yang hidup. Aku akan menjaga kekudusan sehingga Engkau pun betah tinggal didalam hatiku. Beri aku kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya, Roh Kudus.
Bapa, didalam surat ini aku juga ingin menuliskan beberapa hal, misalnya mengenai impianku. Aku ingin menjadi seorang penulis yang sukses, Bapa. Seorang penulis yang mampu menghasilkan karya tulisan yang dapat menjadi inspirasi bagi diriku dan orang lain. Bapa, Engkau tahu kerinduan ku ini sudah sejak lama.  Aku senang menulis. Aku tidak tahu apakah menulis itu merupakan suatu karunia atau proses belajar. Tapi aku yakin untuk menjadi sesuatu haruslah melalui langkah pertama yaitu mencoba. Biarlah proses itu menjadi bagian dalam menuju suatu karunia. Bukankah begitu, Bapa?
Satu hal lagi, Bapa. Aku rindu seluruh anggota keluargaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Karena aku percaya keselamatan hanya ada pada Yesus Kristus. Aku rindu, Bapa, mereka juga diselamatkan dari hukuman kekal. Biarlah mereka memperolah kasih karunia-Mu, sehingga mereka diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah. Aku akan terus mendoakan mereka, Bapa. Aku rindu kami sekeluarga besar tinggal bersama Yesus Kristus disurga dan hidup kekal. Itulah kerinduanku, Bapa. Satu orang diselamatkan, seisi keluarga akan diselamatkan. Satu orang diselamatkan, seisi Surga bersorak-sorai! Dan kiranya Engkau, Bapa, mau mendengarkan dan menjawab doaku ini.
Bapa, akhir kata aku mau mengucap syukur atas segala hal yang Kau berikan padaku. Keluargaku, teman-temanku, pelayananku, pekerjaanku, orang-orang yang mengasihiku, hidupku, terima kasih, Bapa. Terima kasih Tuhan Yesus, atas pengorbanan-Mu diatas kayu salib. Kau layakkan kami untuk menjadi anak-anak Allah. Terima kasih Roh Kudus, atas penghiburan-Mu. Satu ayat penutup surat ini adalah Matius 13: 16 “ Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. “ Amin.

Surat Kerinduanku Kepada-mu Tuhan



Posted on  juni 28, 2014 by jhon dumupa


Gambar
Surat Kerinduanku Kepada-mu Tuhan (Nasrycipta.blogspot.com)
Minggu,28/8/2014 – Berhari-hari,Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan aku jauh dari rumahmu bapak.1 hari dalam seminggu yang engkau berikan kepadaku untuk datang ke rumahmu,memuji dan memuliakanmu tak pernah aku laksanakan lagi bapakku. Namun hari ini aku datang ke rumah mu bapaku dengan hati penuh kerinduan akan kasihmu bapa yang di surga.betapa damai hatiku berada di rumah mu bapa,tak ingin lagi aku keluar dari pintu rumahmu.
Berlutut,menangis di rumahmu bapakku. Aku memohon Ampun atas segala dosa-dosa yang aku perbuat bapaku,baik sengaja maupun tidak sengaja.Karena aku tahu bapa, kasih mu tiada bertepi kepada hambamu ini. Memanggil Engkau Bapa adalah anugerahku yang terbesar.
Sungguh besar kasih dan kuasa-Mu, Bapa, didalam hidupku. Sepanjang hidupku aku ingin terus mengenal diri-Mu, memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.
Terpujilah Engkau, Bapa!
Terpujilah Engkau, Yesus!
Terpujilah Engkau, Roh Kudus!
Amin.
Bapa, Hari ini aku bersukacita sekali dapat lebih mengenal dirimu, walaupun aku tahu aku tidak dapat dan tidak mampu mengenal-Mu sepenuhnya, karena keterbatasanku sebagai manusia, yang adalah ciptaan-Mu.
Bapaku yang di Sorga, hari ini aku memutuskan untuk menulis sebuah surat pada-Mu. Aku tahu sesungguhnya jarakku dengan Engkau hanya sebatas doa. Melalui doa aku bisa menyampaikan hal apapun kepada-Mu. Tapi kali ini aku rindu untuk melakukannya melalui tulisan, dan aku percaya tulisanku ini tetap sampai pada alamat-Mu.
Kau tahu, Bapa, bagaimana perasaanku saat menulis surat ini untuk-Mu? Aku merasakan kesukacitaan didalamnya. Bapa,Engkaumengangkatku sebagai anak-Mu, yang Kau pandang berharga dan mulia. Kau bahkan jadikanku biji mata-Mu. Betapa bahagianya aku, Bapa.
Bapa yang baik, Engkau Bapa yang tidak pernah meninggalkanku, yang setia menjaga dan memeliharaku, melindungiku dan memperhatikanku.  Bapa, oleh karena kasih-Mu, aku dapat belajar lebih menghargai orang lain. Aku menjadi lebih tahu membangun hubungan dengan orang-orang disekelilingku, mulai dari keluargaku, teman-temanku, dan masyarakat. Hal indah ini tidak mungkin dapat kualami jika aku belum mengenal kasih-Mu, Bapa
Sukacita yang meluap, Bapa. Oh..Aku ingin sekali kembali merasakannya. Memang sekarang aku tetap memiliki kedamaian dan sukacita itu ditengah-tengah persoalan dan masalah. Namun sukacita sewaktu aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat melebihi sukacitaku yang sekarang. Sungguh tiada terkatakan dasyatnya.
Apa yang ditulis dalam firman-Mu Matius 13: 45-46 “ Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”. Dan Yesus melebihi mutiara itu. Sungguh aku tidak dapat membayangkan bagaimana hidup di Sorga nanti bersama-sama dengan Yesus Kristus. Itu pasti melebihi dengan apa yang pernah kurasakan.
Bapa, aku sedang merenungkan betapa berbedanya kerajaan dunia dengan Kerajaan Sorga. Di dunia ini banyak masalah dan persoalan hidup, pencobaan-pencobaan terus silih berganti. Sampai terkadang rasanya ingin menyerah saja, Bapa. Betapa sengsaranya hidup didunia ini.
Kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana,bahkan alam pun ikut bereaksi. Ketakutan, kekhawatiran, kebimbangan, ketidakpastian melanda setiap insan duniawi. Ada tangisan, jeritan, keluhan setiap hari bahkan setiap waktu. Entah kapan semua ini berakhir. Tapi ada satu hal bagiku, pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya diatas awan-awan. Itulah merupakan penghiburan buat kami. Segeralah datang , Tuhan Yesus.
Tidak lupa juga Bapa, aku mau mengucap syukur kepada Roh Kudus atas penghiburan dan kekuatan yang telah Ia berikan kepada diriku selama hidup didunia ini dengan segala pencobaan-pencobaan yang ada. Andai bukan karena Roh Kudus, entah  apa yang terjadi pada diriku ini. Aku pasti mengalami keputusasaan atas pengharapan dan jalan buntu dalam persoalan. Oleh karena Roh Kudus lah aku diberi kekuatan, pengharapan sekaligus penghiburan. Terima kasih Roh Kudus. Biarlah Engkau terus mau berdiam dihatiku, karena diriku adalah bait Allah yang hidup. Aku akan menjaga kekudusan sehingga Engkau pun betah tinggal didalam hatiku. Beri aku kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya, Roh Kudus.
Bapa, didalam surat ini aku juga ingin menuliskan beberapa hal, misalnya mengenai impianku. Aku ingin menjadi seorang penulis yang sukses, Bapa. Seorang penulis yang mampu menghasilkan karya tulisan yang dapat menjadi inspirasi bagi diriku dan orang lain. Bapa, Engkau tahu kerinduan ku ini sudah sejak lama.  Aku senang menulis. Aku tidak tahu apakah menulis itu merupakan suatu karunia atau proses belajar. Tapi aku yakin untuk menjadi sesuatu haruslah melalui langkah pertama yaitu mencoba. Biarlah proses itu menjadi bagian dalam menuju suatu karunia. Bukankah begitu, Bapa?
Satu hal lagi, Bapa. Aku rindu seluruh anggota keluargaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Karena aku percaya keselamatan hanya ada pada Yesus Kristus. Aku rindu, Bapa, mereka juga diselamatkan dari hukuman kekal. Biarlah mereka memperolah kasih karunia-Mu, sehingga mereka diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah. Aku akan terus mendoakan mereka, Bapa. Aku rindu kami sekeluarga besar tinggal bersama Yesus Kristus disurga dan hidup kekal. Itulah kerinduanku, Bapa. Satu orang diselamatkan, seisi keluarga akan diselamatkan. Satu orang diselamatkan, seisi Surga bersorak-sorai! Dan kiranya Engkau, Bapa, mau mendengarkan dan menjawab doaku ini.
Bapa, akhir kata aku mau mengucap syukur atas segala hal yang Kau berikan padaku. Keluargaku, teman-temanku, pelayananku, pekerjaanku, orang-orang yang mengasihiku, hidupku, terima kasih, Bapa. Terima kasih Tuhan Yesus, atas pengorbanan-Mu diatas kayu salib. Kau layakkan kami untuk menjadi anak-anak Allah. Terima kasih Roh Kudus, atas penghiburan-Mu. Satu ayat penutup surat ini adalah Matius 13: 16 “ Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. “ Amin.