Aku kira itu SMS darimu
Pagi ini, saat tidak biasanya sebuah sms masuk mengusik heningku, saat aku lagi asyik membaca berita di koran pagi, dan aku sedikit kaget setelah mengetahui ternyata kamu yang menyapa aku di pagi ini. Bagiku, kamu telah menghilang jauh, menghilang entah kemana. Bila kita sebuah tim, kamu telah aku keluarkan dari sebuah tim itu. Namun, aku sangat rindu padamu, jujur aku merasa sangat kehilanganmu, hanya karena egoku, tak mungkin aku mengakui itu padamu. Saking merasa sangat kehilanganmu, ini ku anggap dan terus berusaha mengganggap kamu tidak pernah hadir dalam hidupku.
Kamu mungkin tidak tahu bahwa semua nomor teleponmu telah aku hapus, itu juga bagian dari sebuah cara bagiku untuk menggangap keberadaanmu saat dulu tidak pernah exist, menganggap keberadaanmu hanyalah ilusi semata, sebuah tokoh fiksi dalam sebuah cerpen ataupun novel bersambung. Tentu kamu akan marah jika kamu memang mengetahui sebegitu dalamkah aku untuk menghilangkan jejakmu dalam hidupku. Hari ini pun, saat sms kamu masuk, betapa aku berharap aku telah berhasil melupakanmu, nomor nomormu, berharap aku bisa berucap”ini siapa ya? nomormu tidak ada diphonebook aku.”
Tentu kamu akan sangat marah dan tidak mungkin lagi kamu akan membalas sms itu, dan pasti menganggap diriku sangat sombong hingga hanya sekejap telah melupakanmu. Dan bagiku seandainya itu terjadi, kamu membenciku dan aku tidak ingat lagi siapa dirimu. Beginilah kita berakhir dengan sebuah proses alamiah, mungkin tidak benar kata alamiah bagimu, namun bagiku alamiah terasa pas karena memang secara impulsif aku telah melupakanmu.
Kini,bila malam datang sepiku kian terasa. Kamu yang biasa selalu menyapa dikala malam, bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan, bertanya tentang info-info buku terbaru, meminta pendapatku tentang tulisan-tulisanmu, sampai kamu suka menuangkan curahan hatimu soal keluargamu, tentang mantanmu, tentang temanmu. Masih ingatkah kamu waktu kita membahas tentang sebuah novel, semua adegan yang aku suka juga merupakan adegan yang kamu suka. Kecocokan kita teramat sangat soal novel. Adegan dimana si cewek membahas soal cinta dengan temannya, teman si cewek mengatakan bahwa dia sangat menyukai cowok yang berpenampilan keren, tubuh yang kekar, yang selalu bercelana jeans, dan cewek itu membalasnya”itu bukan cinta, kalau cinta, kamu tidak akan mempedulikan apa yang dipakai oleh kekasihmu, bagaimana posturnya, apa yang terjadi dengannya, kamu akan selalu mencintainya”.
Masih ingatkah kamu dengan adegan itu? Satu adegan lagi yang selalu kita bahas, saat seorang pria yang sangat menyukai si wanita, namun wanita itu sama sekali tidak mencintainya, saat pria itu mengejar wanita itu di pantai, wanita itu menyuruh pria itu menjawab pertanyaanya. Masih ingatkah kamu akan pertanyaan si wanita itu, aku yakin kamu masih ingat. Wanita itu menyuruh pria itu menjawab, berikan alasan kenapa pria itu mencintai dia, tapi pria itu sama sekali tidak bisa menjawab kenapa dia mencintai wanita itu. Di situ kita sepakat bahwa kadang cinta itu tidak perlu ada alasan, kita mencintainya karena memang kita mencintainya, kita tidak tahu juga kenapa bisa mencintainya. Kita ngobrol tentang musim-musim yang disukai. Kamu mengatakan padaku, kamu menyukai musim gugur, daun daun yang menguning, daun-daun yang berterbangan, ranting ranting kering, namun kamu juga bilang padaku kamu menyukai salju, itulah topik topik yang kita bahas dikala semuanya mungkin telah tertidur lelap.
Kini,malam-malam datang tanpa ada menyertai dirimu lagi. Aku merasa kamu telah terlepas dengan malam yang datang menyambutku, seperti sebuah kereta yang terus membawaku berlaju, malam malam dulu, kita berdua dalam kereta itu, namun malam malam kini kamu telah berhenti di stasiun pemberhentian dan kamu keluar meninggalkanku seorang diri kini dalam kereta yang terus melaju. Saat malam-malam bersamamu, saat emosi aku sedang kacau, aku merasa sangat lelah, semakin kamu menyapaku, semakin aku merasa lelah dan mungkin aku merasa hati yang perih, mungkin juga karena egoku.
Kamu tahu kenapa aku lelah, bersamamu aku hanya bisa mendengar suaramu dengan terpisah oleh jarak yang jauh. Aku tak sanggup meraihmu, menatapmu, melihat ekpresimu, melihat senyummu, kamu juga yang menolak untuk aku gapai. Kamu tahu, kadang betapa tersiksanya perasaan ini, bagaikan disaat aku kehausan, aku hanya memandang segelas orange juice dari balik kaca yang tak mampu aku mengambilnya. Tapi, cinta tidak untuk memiliki dan dimiliki, karena cinta hanya hidup untuk cinta. Begitu yang pernah saya baca dari sebuah buku sastra.
Kamu tahu? malam malam bersamamu aku telah tahu, suatu saat akan berakhir dan telah lama aku mempersiapkan diri ini untuk menghadapinya, menghadapi tanpa kehadiranmu. Dan akhirnya sebuah hari penantian kamu sampaikan kepadaku. Saat aku jalan-jalan di pinggir pantai pasir putih danau toba, teleponmu masuk, kita mengobrol santai, kamu mengatakan betapa rindunya kamu akan suasana pantai pasir putih danau toba, namun di akhir percakapan dirimu memberitahuku bahwa kamu berdua telah memilih dan menetapkan sebuah tanggal hari pernikahan. Kata-katamu itu menyumbat mulutku,walau tidak kamu sadari.
Aku terpaku, aku terpana, mataku kosong menatap gelombang ombak di depan, terasa hampa mendengar suara desiran angin yang berhembus kencang. Bagiku, saat itu seakan semuanya berhenti, waktupun berhenti dan mendapati diriku berada di ruang yang hampa. Mungkin tidak kamu sadar, itulah kata kata yang paling takut bagiku untuk didengar. Hari hari terus berjalan, kamu tahu, malam-malam tidak semesra dulu, kala pertama kali kita berkenalan, kala kita berdiskusi tentang novel-novel dan apakah kamu tahu juga, saat nanti aku pulang kampung ke samosir. Jujur ku katakan, tak sanggup diri ini menemuimu, sekadar berpapasan denganmu saja aku tidak sanggup.
Akhirnya,hari penantian itu tiba dengan datangnya sebuah kartu undangan darimu. Kamu tahu, aku memikirkan beberapa skenario untuk itu, skenario untuk tidak hadir dalam hari sakralmu, skenario hanya hadir untuk menyapa dan pergi setelah itu, sampai skenario pergi dengan bergandengan seorang cewek. Alangkah bodohnya diriku ini, ha ha. Semua skenario itu hanya mendatangkan luka di hati. Akhirnya aku memilih datang sendiri, kamu terasa senang melihat kedatanganku, bagiku sendiri kedatangan ini sekaligus perpisahan itu sendiri. Tidak lupa kamu memintaku foto bersama, sungguh ingin memenuhi permintaanmu, namun tahukah kamu ku sembunyikan luka ini di hati.
Dari jauh ku memandangmu, bagiku itu cukup sudah, bagian akhir dari sebuah kisah, dan aku pun melangkah keluar. Apakah kamu ada mencariku, menyisiri semua ruangan untuk melihatku, memanggilku untuk foto bersamamu..ah, bagiku toh semuanya itu tidak penting, yang terpenting adalah kisah ini berakhir. Kini, malam ini, aku bercerita tentang kisah kita. Bagiku, peranmu telah habis. Hanya penggantimu belum aku temukan, mungkin tiada yang sepadan menggantikanmu. Aku terkejut, handphone aku berdering, sebuah sms masuk, mengingatkanku padamu.Ternyata..ha ha.”Pelanggan yang terhormat, nikmatilah tarif nelpon murah dari Pukul 00.00 WIB pagi sampai pukul 17.00 WIB sore, bla bla bla….”
darimu
Pagi ini, saat tidak biasanya sebuah sms masuk mengusik heningku, saat aku lagi asyik membaca berita di koran pagi, dan aku sedikit kaget setelah mengetahui ternyata kamu yang menyapa aku di pagi ini. Bagiku, kamu telah menghilang jauh, menghilang entah kemana. Bila kita sebuah tim, kamu telah aku keluarkan dari sebuah tim itu. Namun, aku sangat rindu padamu, jujur aku merasa sangat kehilanganmu, hanya karena egoku, tak mungkin aku mengakui itu padamu. Saking merasa sangat kehilanganmu, ini ku anggap dan terus berusaha mengganggap kamu tidak pernah hadir dalam hidupku.
Kamu mungkin tidak tahu bahwa semua nomor teleponmu telah aku hapus, itu juga bagian dari sebuah cara bagiku untuk menggangap keberadaanmu saat dulu tidak pernah exist, menganggap keberadaanmu hanyalah ilusi semata, sebuah tokoh fiksi dalam sebuah cerpen ataupun novel bersambung. Tentu kamu akan marah jika kamu memang mengetahui sebegitu dalamkah aku untuk menghilangkan jejakmu dalam hidupku. Hari ini pun, saat sms kamu masuk, betapa aku berharap aku telah berhasil melupakanmu, nomor nomormu, berharap aku bisa berucap”ini siapa ya? nomormu tidak ada diphonebook aku.”
Tentu kamu akan sangat marah dan tidak mungkin lagi kamu akan membalas sms itu, dan pasti menganggap diriku sangat sombong hingga hanya sekejap telah melupakanmu. Dan bagiku seandainya itu terjadi, kamu membenciku dan aku tidak ingat lagi siapa dirimu. Beginilah kita berakhir dengan sebuah proses alamiah, mungkin tidak benar kata alamiah bagimu, namun bagiku alamiah terasa pas karena memang secara impulsif aku telah melupakanmu.
Kini,bila malam datang sepiku kian terasa. Kamu yang biasa selalu menyapa dikala malam, bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan, bertanya tentang info-info buku terbaru, meminta pendapatku tentang tulisan-tulisanmu, sampai kamu suka menuangkan curahan hatimu soal keluargamu, tentang mantanmu, tentang temanmu. Masih ingatkah kamu waktu kita membahas tentang sebuah novel, semua adegan yang aku suka juga merupakan adegan yang kamu suka. Kecocokan kita teramat sangat soal novel. Adegan dimana si cewek membahas soal cinta dengan temannya, teman si cewek mengatakan bahwa dia sangat menyukai cowok yang berpenampilan keren, tubuh yang kekar, yang selalu bercelana jeans, dan cewek itu membalasnya”itu bukan cinta, kalau cinta, kamu tidak akan mempedulikan apa yang dipakai oleh kekasihmu, bagaimana posturnya, apa yang terjadi dengannya, kamu akan selalu mencintainya”.
Masih ingatkah kamu dengan adegan itu? Satu adegan lagi yang selalu kita bahas, saat seorang pria yang sangat menyukai si wanita, namun wanita itu sama sekali tidak mencintainya, saat pria itu mengejar wanita itu di pantai, wanita itu menyuruh pria itu menjawab pertanyaanya. Masih ingatkah kamu akan pertanyaan si wanita itu, aku yakin kamu masih ingat. Wanita itu menyuruh pria itu menjawab, berikan alasan kenapa pria itu mencintai dia, tapi pria itu sama sekali tidak bisa menjawab kenapa dia mencintai wanita itu. Di situ kita sepakat bahwa kadang cinta itu tidak perlu ada alasan, kita mencintainya karena memang kita mencintainya, kita tidak tahu juga kenapa bisa mencintainya. Kita ngobrol tentang musim-musim yang disukai. Kamu mengatakan padaku, kamu menyukai musim gugur, daun daun yang menguning, daun-daun yang berterbangan, ranting ranting kering, namun kamu juga bilang padaku kamu menyukai salju, itulah topik topik yang kita bahas dikala semuanya mungkin telah tertidur lelap.
Kini,malam-malam datang tanpa ada menyertai dirimu lagi. Aku merasa kamu telah terlepas dengan malam yang datang menyambutku, seperti sebuah kereta yang terus membawaku berlaju, malam malam dulu, kita berdua dalam kereta itu, namun malam malam kini kamu telah berhenti di stasiun pemberhentian dan kamu keluar meninggalkanku seorang diri kini dalam kereta yang terus melaju. Saat malam-malam bersamamu, saat emosi aku sedang kacau, aku merasa sangat lelah, semakin kamu menyapaku, semakin aku merasa lelah dan mungkin aku merasa hati yang perih, mungkin juga karena egoku.
Kamu tahu kenapa aku lelah, bersamamu aku hanya bisa mendengar suaramu dengan terpisah oleh jarak yang jauh. Aku tak sanggup meraihmu, menatapmu, melihat ekpresimu, melihat senyummu, kamu juga yang menolak untuk aku gapai. Kamu tahu, kadang betapa tersiksanya perasaan ini, bagaikan disaat aku kehausan, aku hanya memandang segelas orange juice dari balik kaca yang tak mampu aku mengambilnya. Tapi, cinta tidak untuk memiliki dan dimiliki, karena cinta hanya hidup untuk cinta. Begitu yang pernah saya baca dari sebuah buku sastra.
Kamu tahu? malam malam bersamamu aku telah tahu, suatu saat akan berakhir dan telah lama aku mempersiapkan diri ini untuk menghadapinya, menghadapi tanpa kehadiranmu. Dan akhirnya sebuah hari penantian kamu sampaikan kepadaku. Saat aku jalan-jalan di pinggir pantai pasir putih danau toba, teleponmu masuk, kita mengobrol santai, kamu mengatakan betapa rindunya kamu akan suasana pantai pasir putih danau toba, namun di akhir percakapan dirimu memberitahuku bahwa kamu berdua telah memilih dan menetapkan sebuah tanggal hari pernikahan. Kata-katamu itu menyumbat mulutku,walau tidak kamu sadari.
Aku terpaku, aku terpana, mataku kosong menatap gelombang ombak di depan, terasa hampa mendengar suara desiran angin yang berhembus kencang. Bagiku, saat itu seakan semuanya berhenti, waktupun berhenti dan mendapati diriku berada di ruang yang hampa. Mungkin tidak kamu sadar, itulah kata kata yang paling takut bagiku untuk didengar. Hari hari terus berjalan, kamu tahu, malam-malam tidak semesra dulu, kala pertama kali kita berkenalan, kala kita berdiskusi tentang novel-novel dan apakah kamu tahu juga, saat nanti aku pulang kampung ke samosir. Jujur ku katakan, tak sanggup diri ini menemuimu, sekadar berpapasan denganmu saja aku tidak sanggup.
Akhirnya,hari penantian itu tiba dengan datangnya sebuah kartu undangan darimu. Kamu tahu, aku memikirkan beberapa skenario untuk itu, skenario untuk tidak hadir dalam hari sakralmu, skenario hanya hadir untuk menyapa dan pergi setelah itu, sampai skenario pergi dengan bergandengan seorang cewek. Alangkah bodohnya diriku ini, ha ha. Semua skenario itu hanya mendatangkan luka di hati. Akhirnya aku memilih datang sendiri, kamu terasa senang melihat kedatanganku, bagiku sendiri kedatangan ini sekaligus perpisahan itu sendiri. Tidak lupa kamu memintaku foto bersama, sungguh ingin memenuhi permintaanmu, namun tahukah kamu ku sembunyikan luka ini di hati.
Dari jauh ku memandangmu, bagiku itu cukup sudah, bagian akhir dari sebuah kisah, dan aku pun melangkah keluar. Apakah kamu ada mencariku, menyisiri semua ruangan untuk melihatku, memanggilku untuk foto bersamamu..ah, bagiku toh semuanya itu tidak penting, yang terpenting adalah kisah ini berakhir. Kini, malam ini, aku bercerita tentang kisah kita. Bagiku, peranmu telah habis. Hanya penggantimu belum aku temukan, mungkin tiada yang sepadan menggantikanmu. Aku terkejut, handphone aku berdering, sebuah sms masuk, mengingatkanku padamu.Ternyata..ha ha.”Pelanggan yang terhormat, nikmatilah tarif nelpon murah dari Pukul 00.00 WIB pagi sampai pukul 17.00 WIB sore, bla bla bla….”
